Mendengar Suara Tuhan

Mendengar Suara Tuhan

“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan FirmanKU tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yohanes 15:5-7)

Satu prinsip yang Tuhan bagikan kepada setiap orang percaya yang rindu untuk selalu menikmati anugerah, penyertaan dan pemeliharaan Tuhan, dan mengalami keberhasilan dalam hidup, adalah dengan cara kita tinggal di dalam Dia dan kita memastikan FirmanNYA tinggal di dalam kita. Selama kita bisa memastikan selalu ada dinamika roh dalam hidup kita dan dari waktu ke waktu rasa haus dan lapar akan Tuhan selalu ada dalam diri kita, itu artinya kita sedang tinggal di dalam Dia. Yang kita perlu lakukan hanyalah memastikan agar FirmanNYA selalu tinggal dalam hidup kita, karena ketika FirmanNYA tinggal dalam hidup kita, maka kita bisa melakukan banyak hal yang secara manusiawi tidak akan bisa kita lakukan.

Persoalannya adalah, kebanyakan orang Kristen berpikir bahwa ketika mereka pergi ke gereja pada hari Minggu, itulah saatnya untuk mereka menerima Firman Tuhan. Padahal, yang Yesus maksudkan ketika Ia berkata, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah” adalah Firman yang setiap hari selalu datang dari mulut Tuhan khusus untuk kita. Berarti, kemampuan kita untuk mendengar suaraNYA harus terus dikembangkan.

Alasan mengapa kebanyakan orang Kristen hanya mencari Firman pada hari Minggu ketika datang ke gereja, lalu dari hari Senin sampai Sabtu mereka tidak menerima Firman apapun, adalah karena mereka tidak tahu bagaimana cara mendengar suara Tuhan, ataupun seperti apa kira-kira Tuhan berbicara. Dengan kita mengetahui ciri-ciri suara Tuhan, kitapun akan dengan mudah bisa mengenali ketika Tuhan berbicara.
Tiga cara yang selalu Tuhan pakai untuk berkomunikasi dengan kita:

1. Suara Roh Kudus di dalam roh kita.
Ciri-cirinya suara Tuhan:
Kita terima dengan suatu kepastian bahwa yang kita dengar adalah suara Tuhan.
Seringkali berupa sebuah arahan atau perintah.
Suara itu berotoritas.
Suara itu terdengar di dalam roh atau pikiran kita.
Terdengar lebih keras dari pikiran-pikiran kita.
Selalu selaras dengan prinsip Firman yang kita pelajari.
Selalu berupa sebuah komunikasi yang progresif.
Tegas, tapi penuh kasih.
Konstan dan sudah kita kenali.

2. Kesaksian Roh Kudus di dalam roh kita.
Roh Kudus akan terus melatih roh kita dengan memberikan dorongan atau perasaan-perasaan rohani tertentu. Tujuannya adalah:
Agar kita dapat meresponi dengan tepat berbagai perasaan dan hal-hal rohani yang terjadi di dalam roh kita, sehingga kita bisa langsung terhubung dengan dimensi rohani yang ada di tengah-tengah kita.
Agar roh kita dapat berfungsi dengan tepat sesuai dengan kehendak Tuhan.
Agar kita dapat mengenali dan membedakan roh-roh lain yang ada di sekitar kita.

3. Suara roh kita yang sudah lahir baru.
Ketika Tuhan mempergunakan suara hati nurani kita untuk berbicara kepada kita, seringkali suara hati nurani itu akan mengingatkan kita untuk tetap berjalan dalam kebenaran yang pernah kita pelajari. Setiap kali kita hendak melakukan sesuatu yang disebut oleh Firman sebagai dosa, kita akan mendengar suara hati nurani kita menegur dan melarang kita melanjutkan tindakan tersebut. Memang, suara hati nurani tersebut seringkali akan terdengar seperti suara pikiran kita sendiri, sehingga ketika kita sudah terlanjur tergoda oleh sesuatu, kecenderungannya adalah kita akan mengabaikan suara hati nurani kita itu.

Akan tetapi, semakin kita menaati suara hati nurani kita, semakin hidup kita akan memperkenan hati Tuhan dan kitapun akan terus bertumbuh dalam iman dan kebenaran. Sebaliknya, ketidaktaatan kepada suara hati nurani akan mengakibatkan iman kita kandas (baca Roma 1 dan 1 Timotius 1).

Mungkin tidak setiap hari Roh Kudus berbicara dengan jelas dalam roh kita, tetapi setiap waktu suara hati nurani kita akan berbicara kepada kita. Selama kita terus mendengarkan dan menaati suara hati nurani kita, kita tidak akan dapat dengan begitu saja dibelokkan dari kebenaran dan kehendak Tuhan.

Ada sebuah peringatan yang saya ingin berikan: hati nurani yang suci ini bisa tercemar, oleh sebab itu kita harus menjagai hati nurani kita dengan cara terus melakukan perenungan Firman. Membiarkan berbagai pemikiran yang bukan dari Tuhan terus masuk ke dalam pikiran kita akan membuat hati nurani kita tercemar. Ketika hati nurani kita berbicara namun kita menolaknya dan melakukan apa yang bertentangan dengan suara hati nurani kita, perasaan bersalah akan mulai muncul dalam diri kita. Rasa bersalah itu adalah tanda bahwa kita memiliki kehidupan yang tidak memperkenan Tuhan. Semakin kita membuang dan menekan rasa bersalah itu, lambat laun hati nurani kita akan mulai mati.

Setiap hamba Tuhan yang kemudian dikenal sebagai hamba Tuhan palsu sesunguhnya adalah orang-orang yang tidak lagi mengikuti suara hati nurani mereka, sehingga dengan demikian iman mereka menjadi kandas. Karena itu, belajarlah untuk terus mengikuti tuntunan hati nuranimu, karena hati nurani yang murni akan membuat dapat selalu berjalan bersama Tuhan. Dengan demikian, anugerah dan perkenanan Tuhan akan selalu ada dalam hidup kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s